Akhirnya hari ini datang juga. Mungkin hari ini adalah hari yang ku
tunggu. Sejak aku memasuki kampus ini di awal Agustus yang menjadi
keinginan terbesarku adalah secepatnya keluar. Kepada siapapun aku
berkali-kali mengatakan kampus ini tidak pernah ada dalam daftar tempat
yang ingin ku singgahi. Sejak awal aku tidak pernah ingin berhenti di
tempat ini. Bagiku STAN adalah pelabuhan terakhir yang ingin ku
kunjungi. Aku mengikuti ujian SNMPTN hanya ingin mendapat tempat
cadangan jika saja aku tidak bisa masuk ke tempat yang ku inginkan. Aku
tidak pernah menyangka bahwa tempat ini bukanlah tempat cadangan. Aku
tidak pernah menyangka aku akan berakhir disini untuk sementara.

Sebagaimana orang yang mengawali sebuah hubungan dengan sebuah
kebencian maka itu tidak akan pernah berhasil. Orang- orang bahkan orang
tuaku berkata ini adalah jalan terbaik yang harus ku tempuh. Mereka
mengatakan bahwa Tuhan pasti memiliki rencana yang indah dibalik ini
semua.Dan aku hanya menganggapnya sebagai kata-kata penghiburan agar aku
tidak terlalu berduka untuk diriku sendiri.
Aku pernah menonton
film 3 Idiots,ketika Rancho mendapat tempat pertama yang paling sedih
bukan rivalnya ChaturRamalinggam, melainkan sahabatnya sendiri Raju dan
Farhan. Aku juga mengalamiitu. Aku sudah lupa apakah PKK SMA ku bang
Edis atau adikku yang Manis Lita yang memberitahuku bahwa Joe lulus di
STAN. Menurutmu bagaimana aku harus menerima ini?
Ku akui aku sedih. Terlalu sedih bahkanketika Joe menelepon aku menangis.
Hah.. temanku itu bisa berakhir di STAN
Tetapi seperti kata Agnes Monica, Show must go on. Aku tidak mungkin
hanya menyesali ketidakberanianku bahkan untuk mendaftarkan diriku.
Siapa yang harus kusalahkan? Bahkan Tuhan juga sudah ku salahkan karena
tidak memberikan aku keberanian. Aku sudah terlalu lelah menyalahkan
setiap orang dalam kehidupanku.Kepribadianku adalah kepribadian yang
buruk. Aku sangat pendiam. Aku juga sangat dingin dan tidak peduli
dengan orang lain. Aku selalu seolah mempunyai duniaku sendiri. Aku
terlalu senang untuk bermain-main dengan diriku sendiri.Aku lebih
mempercayai kertas daripada manusia. Maka aku lebih senang berbicara
dengan kertas.
Perkuliahanku dimulai. Aku tinggal
bersama 3 orang abang yang menyenangkan, 2 kakak yang baik, dan satu
sepupu yang hiperaktif. Bagaimana mungkin aku bisa tetap beradadi
sekolah yang sama dengan dia untuk waktu yang lama? Bagaimana mungkin
aku satu SD dengannya, satu SMP, satu asrama, satu SMA, satu kampus dan
satu rumah?
Aku tidak terlalu terkejut dengan sistem pembelajaran
di kampus. Bagiku yang berbeda hanya aku bebas mengenakan baju apapun.
Aku juga tidak setiap hari mengikuti perkuliahan. Cukup menarik untukku
jalani. Aku lebih banyak mengamati orang-orang di dalam kelasku.
Orang-orang seperti apakah yang akan menjadi teman-temanku. Apakah
mereka pintar?
Bagiku kepintaran adalah hal mutlak.Begitu juga
dengan harga diri sebagai seorang mahasiswa. Bukankah aku pernah
memberitahu bagiku mahasiswa adalah saingan Tuhan dalam menggunakan kata
Maha?Mereka pasti keren.
Aku bertemu dengan seorang
gadis mungil, dia baik dan ramah hanya saja dia tidak terlalu suka duduk
di depan dan aku tidak suka duduk dibelakang. Bagiku teori duduk
didepan memberikan nilai plus itu berlaku. Aku percaya walaupun kau
tidak berniat untuk belajar dengan duduk didepan maka setidaknya kau
akan mendapat 10% penjelasan dari dosen. Aku percaya itu.
Suatupagi di hari sabtu aku kebetulan duduk dibelakang gadis gendut
berkulit hitamberambut seperti jarum. Dia sedang membaca novel Stephanie
Meyer,Twilight. Aku juga suka dengan buku.Sedikit suka membaca hanya
saja aku tidak suka novel-novel fiksi yangmenyajikan suatu hal yang
tidak bisa ku terima sebagai hal yang logis. HarryPotter dengan sapu
terbang dan Edward Cullen dengan hidupnya yang sudah ribuantahun, aku
tidak bisamenerima,mempercayai oleh karena itu aku tidak tertarik dengan
karya sepertiitu. Aku sama dengan mamaku yang berpendapat hanya Tuhan
yang ajaib tidak adalagi yang ajaib selain itu. Tetapi mahasiswi gendut
ini menyukainya bahkan cenderung tergila-gila.
Maka
selanjutnya aku dekat dengan mereka. Kami berempat mempunyai ikatan
yangdisebut persahabatan. Tetapi orang-orang seperti mereka tidak pernah
ada dalam kehidupanku. Biasanya orang-orang dalam kehidupanku adalah
orang yang sama sepertiku. Tidak terlalu tertarik dengan dunia. Agak
kalem. Tidak ribut. Mereka lain, sangat lain. Mereka sangat suka
berbicara dan berdebat. Mereka sangat ribut. Terlebih lagi mereka mau
menelepon dosen untuk minta libur. Mereka menelepon dosen dan memastikan
dosen itu tidak datang lalu kami akan pulang. Salah satu dari mereka
tidak menyukai perpustakaan maka hal ini berimbas kepada yang lain. Aku
juga jarang mengunjungi perpustakaan. Bagi kami itu adalah tempat
sakral. Anehnya kendati mereka seperti itu dan membawaku ke situasi
seperti itu aku tetap menyukainya.Aku menikmati apa yang ku lakukan
bersama mereka.
Akujuga berada dalam satu organisasi
dengan mereka. Bertemu di kelas yang sama,organisasi yang sama dan
selalu pulang bersama. Aku tidak pernah bosan. Kami melakukan apapun
hanya untuk bersenang-senang. Kami bahkan ikut aksi damai hanya untuk
bersenang-senang. Mahasiswi semester 1 apakah mempunyai pikiran yang
seperti itu?
Kami sangat suka mengomentari apapunyang kami lihat.
Dan bagiku itu sangat menyenangkan. Aku tidak terobsesi dengan nilai,
bagiku asalkan aku tidak mendapat nilai E bukanlah menjadi masalah.
Apakahitu nilai A,B, C semuanya adalah sama. Sama-sama nilai. Aku tidak
percaya dengan nilai.
Tidak ada yang bisa menilai dirikudengan tingkat keakuratan 100% bahkan 90% pun tidak.
Kami berempat juga berada di kampus ini dengan hati yang sama terhadap
kampus ini :TAWAR. Ini karena kami tidak mempunyai tempat kedua untuk
didatangi. Kami juga sering mengomentari Negara ini. Kami seperti orang
kebanyakan yang berpikir sangat menyedihkan menjadi orang Indonesia.
Kami berpikir sangat melelahkan menjadi orang Indonesia. Pasti di luar
negeri kami akan menundukkan kepala berjalan dihadapan orang lain.
Namun
semua berubah di awal semester 3,kami harus berpisah karena adanya
pembagian program studi. Tinggal aku dan sikecil yang bersama. Si gendut
dan si cantik berpisah dari kami. Tadinya akuberpikir itu tidak akan
mengubah apapun nyatanya aku salah. Itu cukup mengubah kebiasaan kami.
Semester3 dimulai. Bertemu lagi dengan teman-teman yang baru. Aku
paling tidak menyukai bagian ini didalam kehidupanku. Aku tidak menyukai
proses ini proses menyesuikan diri dengan lingkungan : ADAPTASI.
Untungnya aku masih bertemudengan beberapa teman di kelas terdahuluku.
Di
kelas ini aku menemukan dua lagi manusia yang menjadi tempatku
berlindung. Ditempat ini aku menemukan lagi 2 orang lagi diluar diriku
yang ingin ku doakan. Lagi – lagi mereka tidak mirip denganku. Yang satu
adalah wanita cantik yang lembut sedangkan manusia yang satu lagi
adalah seorang mahasiswa yang memberi kesan buruk kepadaku. Namun siapa
sangka kepribadianku yang sangat mirip dengannya malah disatukan dalam
sebuah ikatan persahabatan. Jangan tanya berapa kali aku bertengkar
dengannya. Hampir setiap saat kalau kami bertemu akan selalu ada adu
pendapat.
Aku dan dia dilahirkan pada tanggal,bulan dan tahun
yang sama. Namun itupun kami perdebatkan. Aku mengaku lahir hari selasa
dan dia mengaku lahir hari senin. Tidak ada satupun dari kami yang
benar. Sebenarnya kami lahir hari sabtu.
Aku selalu
menunggu hari ini. Hari dimana aku bisa menyandang sebuah gelar
dibelakang namaku yang sebenarnya sudah panjang. Tetapi untuk sampai ke
tahap ini apakah kau bisa membayangkan apa yang ku lewati?
Ketika
aku melihat kebelakang melihat orang seperti apa aku ketika menjadi
mahasiswa disini aku bertanya kepada diriku sendiri. Apakah sudah ada
yang berubah? Apakah aku masih seperti seorang lulusan SMA ?
Apakah mimpiku masih yang sama??
Kuakui ada sedikit perubahan dalam diriku. Ku akui ada mimpi – mimpi
lagi yang ingin ku capai. Dulu didalam pikiranku hanya agar aku mendapat
kehidupan yang layak. Ku akui semua yang ku lihat dan ku alami dikampus
ini mengubah sebagian hidupku dan pemikiranku. Aku jadi bisa membuat
perbedaan yang mendalam mengenai profesi sebagai pendulang uang atau
pengabdian. Dan ku pastika aku keluar darikampus ini dengan pemikiran
seorang sarjana pendidikan bukan anak SMA.
“ Nanti kalau aku
mendapatkan kedudukanyang layak aku akan mengubah pendidikan ini Nas “
begitu seseorang pernah berkata kepadaku.
“ Mungkinkah nanti kau
akan berpikirseperti itu, ketika sekarang saja kita masih kompromi
apalagi nanti setelahkita mempunyai jabatan, akan sulit “
“ Aku pasti bisa “
Dan aku bertanya: Mungkinkah ?
Aku selalu menunggu hari ini. Hari dimana aku mengenakan jubah hitam
dimana aku akan disahkan menjadi seorang sarjana. Ketika judisium
kemarin aku melewatinya tanpa rasa apapun. Hatiku sedikit terluka karena
aku sendiri yang harusmenjalani prosesi ini tanpa sahabatku maka
sepanjang upacara pikiranku hanya tertuju pada masa – masa yang telah
lalu pikiranku kemudian membawaku kembali ke semester 1. Inilah
kehidupan mereka yang bersama tidak selalu mengakhirinya bersama.
Mereka, sahabatku itu yang mengubahku menjadi sedikit cerewet, mereka
melepaskan aku sendirian. Bukankah dulu kami berjanji bersama?
Bukankah kami sudah melewati berbagai hal bersama?
Kami
bahkan mengikuti aksi damai bersama, tarik tambang bersama mengenakan
seragam Chelsea dan menghitung mobil yang lewat di jembatan dekat
kampus.
Apapun itu keluar dari kampus ini
meninggalkan kesan tersendiri dihatiku. Ada perasaan senang dan
menelusup perasaan sedih, aku tahu aku belum melakukan hal yang maksimal
yang bisa ku lakukan selama aku mahasiswa.
Selamat tinggal dunia
kampus,menyenangkan menjalani kehidupan sebagai mahasiswa. Jika aku tahu
begini perjalanan yang harus ku tempuh mungkin aku tidak akan terlalu
lama patah hati dengan STAN.
Aku selalu menunggu hari
ini. Bahkan sejak Lisa mengabarkan kalau aku lulus diUnimed di hari
Kamis malam. Aku selalu menunggu hari ini bahkan sejak pertamakali aku
menginjakkkan kakiku dikampus ini. bahkan sebelum aku memulai
petualanganku dikampus ini. Tetapi ketika aku melihat apa yang telah ku
lalui rasanya terlalu cepat berlalu.
Sayonara Nena…