Senin, 01 Juni 2015

A journey



            Aku sering menebak bagaimana aku 5 tahun mendatang. Dimana aku dan apa yang aku lakukan. Aku menghabiskan lebih banyak waktuku dengan hidup sendiri, karena aku dan keadaan yang memutuskan dan aku mempercayai itu bagian dari scenario Tuhan untukku. Sejak kecil bapak mengjarkanku untuk mempercayakan kehidupanku kepada Tuhan. Sejak kecil dia mengajarkanku bahwa apapun yang ku minta akan diberikan oleh Tuhan. Ketika SD aku menghabiskan waktu ke sekolah dan ke ladang. Aku tidak suka ke ladang. Aku tidak suka dengan terik matahari dan aku tidak suka dengan serbuk jagung yang membuatku merasa gatal.
Dan sejak itu aku memutuskan akan menjadi guru, ketika itu aku masih SD. Mungkin terlalu dini bagi anak kecil untuk memutuskan tetapi mungkin tidak bagi Tuhan. Tuhan benar-benar membukakan jalan yang lebar bagiku untuk menjadi guru bahkan ketika aku tidak menginginkannya.
            Tidak ada yang kebetulan untuk setiap hal yang terjadi di dunia ini. Mengapa aku harus tinggal jauh dari orang tua ku, mengapa aku ditempa dari anak yang cengeng menjadi seorang pribadi yang kuat, seorang yang hopeless menjadi orang yang optimis. Aku benar-benar bersyukur untuk diriku yang sekarang. Aku sangat bersyukur melihat buah dari perjalanan selama 12 tahun ini, walau dampaknya masih untuk diriku seorang.
Aku dulu sangat pendiam, pendendam, sangat mudah untuk marah dan menutup diri. Lihatlah sekarang diriku, aku menggenggam semua masa laluku dan berdamai dengan mereka. Aku lebih banyak tertawa, aku optimis dengan hidupku, aku membina pertemanan dengan banyak orang. Aku tidak ingin kembali ke kubangan yang mengikatku. Tuhan membukakan jalan lain yang bisa kugunakan untuk melampiaskan kemarahan atau keresahan hatiku lewat : Menulis.
            Aku mencoba menyajikan kehidupanku dalam tokoh lain dan hidupku ternyata tidak sesulit itu. Selama ini aku yang membuatnya sulit. Aku yang membuat diriku sebagai objek untuk ku lukai sendiri. Permasalahannya adalah diriku dan aku bersyukur aku sudah berdamai dengan semua hal. Masa lalu bagiku adalah pembelajaran. Aku belajar menjadi pribadi yang kuat dan Tuhan menempaku sejak aku masih kecil. Aku sekarang lebih kuat dari yang pernah aku bayangkan. Aku tidak pernah memimpikan saat ini.
Dalam bayangan mamak mungkin aku adalah seorang yang pemalu dan pendiam, tetapi aku sudah menjadi lebih baik sekarang.
            Aku banyak belajar lewat kehidupanku dan memikirkannya. Ketika di Unimed aku lebih banyak belajar mengenai ilmu kehidupan. Seorang mungkin menjadi mahasiswa yang idealis ketika ia muda tetapi toh ia jatuh juga. Banyak yang seperti itu. Tahun pertamaku di Unimed, aku membaca buku tentang Soe Hoe Gie (setelah disuruh bang Rinto), aku menyelami kehidupannya. Mencoba menempatkan hidupku dijamannya, di jaman Soekarno. Betapa tidak menyenangkannya menjadi seorang minoritas tetapi sebagian dari hatimu tetap memihak pada negaramu. Karena dari sanalah kau berasal, entah suka atau tidak sebagian hatimu sudah tertanam untuk negara bernama Indonesia.
            Di tahun-tahun berikutnya bang Itra memperkenalkanku pada Kugy dan Keenan. Dan aku terinspirasi dengan kisah-kisah dua orang yang menjalani mimpi dan orang lain berpendapat mimpi mereka tidak relevan dengan hidup di realitas. Maka melarikan dirilah dulu dan kembali lagi. Kembali kepada mimpi yang oleh karenanya kau tetap melangkah melanjutkan mimpimu. Kugy dan Kenan mengajarkanku untuk optimis. Aku akan kembali kepada mimpiku suatu saat nanti. Aku sedang berputar-putar mencari jalan untuk kembali.
            Di tahun terakhirku sebagai mahasiswa aku membaca Tetralogi Buru. Dan lihatlah betapa bodohnya aku, aku tidak mengenal Pramodya dan selain aku masih banyak mahasiswa Indoneisa yang tidak mengenal Pramodya. Itu karena penghargaan kita terhadap karya anak bangsa sangat kurang. Minat untuk membaca juga sangat kurang. Padahal membaca Tetralogi Buru akan membawa kita belajar mengenai identitas kita sebagai bangsa Indonesia. Belajar bahwa untuk melepaskan diri kita dari penjajahan yang pertama harus kita lakukan adalah melepaskan diri dari jajahan bangsa sendiri. Betapa dari dulu sampai hari ini musuh terutama kita adalah sebagian orang yang selalu menganggap dirinya sebagai raja dan menindas orang lain hanya karena posisinya yang agak mentereng. Kita dari dulu hingga sekarang tetap berada pada status yang sama tidak bersedia melepaskan kasta-kasta yang kita ciptakan sendiri untuk kebaikan bersama. Maka kita tak ubahnya Amerika di masa pemerintahan John Kennedy, merdeka hanya milik nenek moyang kita yang mendeklarasikannya, bukan milik kita atau sebagian dari kita.
            Aku sangat berharap kurikulum pendidikan akan menyarankan setiap siswa untuk membaca karya sastra untuk membuka pemikiran mereka. Mereka akan lebih memahami negaranya lewat cerita dimana mereka bisa hidup didalamnya. Aku banyak belajar tentang kehidupan dari karya sastra. Dan itu adalah salah satu mimpiku. Have a great year...

This is my Journey and still be continue 

Hello Spring, here is your story

5 April 2015 pukul 20:29
            Musim dingin telah berlalu dan musim semi datang menggantikan.  Memasuki musim semi bunga-bunga bermekaran. Satu hal yang aku sukai dari Taiwan ini adalah ada banyak pohon-pohon yang berbunga, sayangnya aku tidak tahu nama-namanya. Aku begitu terpana karena pohon-pohon cantik itu. Aku berharap aku bisa membawa benihnya ke Indonesia. MIMPI.
Ketika musim dingin kami mengeluh tentang dinginnya suhu yang menusuk tulang maka musim semi diawali dengan udara yang hangat tetapi belakangan cenderung panas. ketika musim dingin matahari sudah bersembunyi pukul 17.00 maka sekarang pukul 18.00 pun matahari masih terlihat.
Udara memang terasa sangat panas belakangan ini. Di kamar kami memang tersedia dua kipas angin dan kami mengoperasiakan keduanya. Jean, teman Taiwan kami pun masih menambahkan satu kipas anginnya dan kami masih punya kipas angin satu lagi. Kalau suhu udara semakin panas mungkin kami akan mengoperasikan 4 kipas angin nanti. Kamar kami memiliki AC ( Air Conditioner) tetapi untuk menggunakannya kami harus membayar tagihan listrik nantinya, jadi sejauh ini kami belum menggunakannya.
Aku sudah kembali kuliah dan mengambil 3 mata kuliah yang semuanya adalah Research. Research on Instructional Technology, Research on Curriculum Design dan Research On Internatioal and comparative education. Selain itu aku juga mengambil kelas diskusi Statistik karena aku sangat lemah dibidang matematika. Tahun depan aku akan mengambil kelas resminya. Selain itu aku masiih harus mengambil kelas bahasa Mandarin. Di kelas mandarin kami memiliki mahasiswa dari Prancis, kelihatannya mereka akan tinggal selama 4 bulan disini.
Kelas Research on Instrucional Technology adalah kelas yang tersulit menurutku. Selain karena memang aku tidak pernah belajar mengenai itu ketika aku kuliah di jenjang S1. Di kelas ini professor yang suka fotografi sering menanyakan kami mengenai teknologi yang lebih sering kami jawab dengan gelengan kepala pertanda tidak tahu. Dia pernah menyuruh kami menceritakna perkembangan media di Indonesi. Aku menuliskan bahwa ketika aku SD aku menggunakan batu dan lidi untuk belajar berhitung. Dia begitu heran dan aku menjelaskan prosesnya.
Kelas Research On curriculum design diajari oleh professor yang sering tertawa. Dia pernah melihatku minum dari botol minuman dan dia betranya apakah aku memiliki botol minuman yang bisa tetap menghangatkan. Aku menjawab tidak dan minggu berikutnya dia datang membawa termos dan memberikannya kepada kami. Di kelasnya kami juga menonton film tentang guru. Sangat menyenangkan.
Kelas Research On Internatial and Comparative Education diasuh oleh seorang petinggi NGO. Aku sudah tidak ingat berapa negara yang dikunjunginya. Dia juga mengatakan sudah mengunjungi Indonesia beberapa kali. Tentu saja aku tertarik mendengarkan ceritanya yang mengunjungi negara-negara lain. Dia membuatku berpikir untuk bekerja di NGO.
Seminggu ini (1-6 April) kami libur. Liburan kali ini bukan karena peringatan keagamaan seperti di Indonesia tetapi liburan “ spring break”. Aku berpikir andaikan Indonesia seperti ini mungkin aka nada “ Musim hujan break” atau “ musim kemarau break “. Kami merencanakan perjalan ke Taichung. Kami memilih Taichung untuk beberapa alasan, pertama Taichung tidak terlalu jauh dari Chiayi dan Taichung memiliki bus yang gratis jika kita hanya menempuh perjalan selama 8 kilometer.
Demi menghemat ongkos 30% kami menggunakan kartu, namanya Easy card. Aku memang sudah memilikinya ketika pulang liburan dari Taipei kemarin karena begitu repot harus membeli tiket. Kami berangkat berencana menaiki kereta pukul 06.20 sayangnya kami terlambat 7 menit jadi kami menaiki kereta pukul 06.40. Di stasiun kereta kami bertemu dengan mahasiswa CCU (Chun Cheng University) yang berasal dari Nicaragua. Dia mengatakan bahwa kami tidak bisa menggunakan easy card karena perjalanan kami ke utara. Aku mengatakan aku juga pernah menggunakan kartu ini untuk perjalan ke Utara, dari Kaoshiung ke Chiayi (kan kearah Utara juga?). di kereta petugas bertanya tiket kami dan kami menunjukkan easy card, petugas berkata tidak bisa. Ketika aku bertemu dengan Jean yang sudah menunggu di Taichung bersama Missi, aku tahu alasannya adalah stasiun Taichung tidak mempunyai mesin pendeteksi kartu ini.
Di Taichung kami berdiskusi tempat yang akan kami kunjungi, Jean mengatakan akan mengunjungi Museum Sains dan Tunghai University (karena kami ingin melihat gereja uniknya). Kami sangat ingin ke pantai tetapi biaya kesana sangat mahal, jadi kami putuskan untuk mengunjungi dua tempat saja.
Di museum sains kami mengunjungi  3D theater, film yang akan diputar adalah Sherlock Holmes. Sesampainya didalam kami mennton dan sayangnya adalah film itu menggunakan bahasa mandarin dan tidak mempunyai subtitle bahasa Inggris.
Keluar dari 3D theater kami mengunjungi museum dan mencoba mikroskop. Aku baru tahu sel tumbuhan itu mempunyai motif yang sangat cantik dan berwarna-warni. Sekrang aku tahu mengapa scientist itu betah pacaran dengan mikroskop, sel, bakteri dan teman-temannya.
Museum ini sangat lengkap dan mempesona untuk mereka yang tertarik dengan ilmu alam. Mau merasakan gunung api meletus dan eksperiman dengan gempa, mereka menyediakan kursi yang membuat kita merasakan gempa tanpa panik. Di museum ini kami bertemu dengan dinosaurus yang bisa mengibaskan ekornya dan mengeluarkan suara. Aku juga bertemu dengan orangtua dengan 3 anaknya yang begitu tertarik dengan museum dan seorang ayah dengan anaknya yang kelihatannya autis, sang ayah menggandeng anaknya yang sudah dewasa itu dan anaknya asik mengetok dinding.
Aku tidak bisa menceritakannya semuanya disini dan kami juga tidak mengunjungi keseluruhan museum.TERLALU LUAS.
Kami memutuskan pergi ke Tunghai Univerisity dan makan siang di dekat kampus. Taichung memang kota dengan akses transportasi yang mengagumkan. Kami bepergian menggunakan bus dan BRT (mirip Transjakarta) dan tidak membayar sepeser pun karena perjalanan kami masih dibawah 8 kilometer.
Di Tunghai kami mengunjungi sebuah gereja unik bernama “ The Luce Chapel”, filosofi gereja ini adalah dimana ketika manusia berdoa maka tangan Tuhan akan mengapit kedua tangan manusia (menurut Jean, Jean adalah alumni Tunghai University). Setelah lelah berfoto, aku, Misi dan kak Tama memutuskan tidur dibawah pohon. Di Taiwan ornag-orang tidak akan peduli dengan apa yang kau lakukan sepanjang tidak mengganggu ketertiban umum. Bangun tidur kami pindah ke depan gereja dan melanjutkan tidur disana.
Di depan gereja banyak orang yang berfoto-foto.
Berada di tempat ini membuatku merasakan esensi memenuhi semua mimpi yang ku tuliskan di kertas. Berada di gereja ini berarti merealisasikan tulisan kecil “ aku ingin menginjakkan kaki di gereja ini “.
Dari Tunghai kami menaiki BRT yang ternyata dipenuhi banyak orang, mungkin karena liburan. Kami hampir ketinggalan ketika Jean dan Missi sudah masuk dan pintu BRT sudah tertutup sementara kami masih diluar.
Dari Tunghai kami ke night market dan hanya makan malam disana. Kami menaiki bus dan perjalanan dari night market ke train station sangat panjang. Kali ini kami membayar 5 NT (sekitar 2 ribu) karena sudah melewati 8 kilometer perjalan. Perjalanan kali ini ditutup diTrain station.
Hari ini kami ibadah seperti biasa dan bergabung dengan Chinese Congregationberhubung Gerry (leader di English congregation) akan berkotbah. Aku baru tahu kalau paskah kali ini bertepatan dengan upacara membersihkan makam bagi orang Cina. Tadi dalam perjalan menuju gereja aku melihat banyak orang di kuburan dan kini aku tahu alasannya. Gerry menghubungkan kotbahnya dengan tradisi di Cina dan Taiwan. Dan memang kita patut menghormati leluhur tetapi tidak memuja mereka. Wajar jika kita membersihkan makam kerabat dan meletakkan bunga disana tetapi bukan makanan, uang atau yang lain, dimana orang mati tidak membutuhkan itu lagi. Sepulang ibadah seperti biasa makan siang dan aku harus makan secepat mungkin karena hari ini bertugas sebagai pencuci piring. Aku menikmati pelayananku di gereja hari ini. Selamat Paskah.

Sekian liburan musim semi kali ini dan aku masih menantikan liburan yang lainnya.

A Moment To Remember

 
Menulis adalah mengabadikan kenangan. Kau tidak tahu berapa banyak hal yang kau lewati dalam hidupmu. Sebagian kenangan itu mengendap dan terlupakan. Bagaikan sebuah ruangan yang dipenuhi buku tanpa ada yang mencatat jumlah atau judul judul buku yang tersimpan disana. Akhirnya sebeerapa berhargapun buku itu jika tidak ada yang mengatur, membersihkan dan merapikan, mungkin dia akan terlupakan. Begitu juga dengan kenangan. Sejak kecil aku terbiasa menulis buku harian, terkadang dimasa kuliah aku masih mencoba mencari buku-buku yang dulu kugunakan dan menelusuri masa lalu dari sana. Sangat menyenangkan bisa menjelajah waktu tanpa pintu doraemon, menulis buku harian bukan pekerjaan yang dilakuakn oleh manusia berkepribadian melankolis. Menulis adalah mengabadikan kenangan, oleh karena itu aku menulis. Bahkan Pramoedya berkata, “ Even though no one admits it writer are leader in their communities “ memang benar penulis adalah seorang pejuang yang tidak menggunakan pedang untuk melawan lawannya. Aku tidak mengatakan diriku penulis, aku hanya seorang yang mencoba berbagi ceritaku kepada dunia dan terima kasih kepada Mark Zuckenberg. Meninggalkan pendapatku tentang tulisan, berhubung hari ini aku memperingati hari kelahiran maka aku juga akan menuliskan sejarah hari ini. Bagiku ulang tahun adalah “ awkward moment”. Aku tidak menunggu hari ulang tahun karena orang-orang akan membuatku kikuk. Ketika aku mahasiswa aku tidak pernah melemparkan telur atau tepung kepada temanku yang ulang tahun dengan harapan aku juga tidak akan diperlakukan seperti itu. Dan memang aku tidak pernah dilempar telur.Tadi malam aku mengerjakan tugas dan melihat ke jam, jam 12. Aku melihat tidak ada tanda-tanda teman-temanku akan mengucapkan selamat ulang tahun. Aku melanjutkan aktivitasku membaca beberapa cerita yang ku buat hingga jam 1 dinihari, kak Melda lewat BBM mengucapkan selamat ulang tahun lengkap dengan emoticon hati, bunga dan kue. Dia mengucapkan selamat ulang tahun dalam bahasa Korea (Karena aku selalu bilang akan menikah dengan Siwon), dia juga mengatakan harapannya untuk diriku yang masih seputar perkuliahan, visi dan juga TH (everyone talking about that), dan tak lupa dia juga menambahkan baru kali ini menggunakan bunga sebagai emoticon dan aku yang mendapat pertama kali. Kak Melda bagiku adalah seorang kakak yang hanya berusia 1 bulan lebih awal lahir ke dunia. Tetapi didepannya aku tetap seorang adik kecil, kami berada di usia yang sama tetapi aku lebih banyak bergantung kepada dia untuk banyak hal. Aku masih ingat ketika dia baru berduka karena kehilangan orang tua, 2 minggu sebelum ulang tahunku yang ke 22, mungkin karena dia sangat kesepian dia tinggal di rumah kos ku. Jam 2 dini hari aku mendengar suara rebut dan terbangun dan kulihat dia mempersiapkan kue ulang tahun, “ Maaf dek tadinya aku mau bangun jam 12 tapi ketiduran aku “ ucapnya. Itu salah satu kenangan ulang tahun terbaik yang aku punya. Betapa dia ketika masih berusaha untuk bangkit dari kesedihan masih mengingat untuk merayakan momen kelahiranku, that’s why I love her so much, that’s why I always tell her everything about my life ‘cause she always special in my life.            Aku masih menyempatkan menonton film sambil mengerjakan PR ku hingga pukul 03 dini hari lalu aku memutuskan tidur. Entah karena ulang tahun atau karena merindukan mamak, baru beberapa menit aku memejamkan mata aku seperti melihat mamak dan dia memanggilku, “ Ni “ ya orang tua ku dan abangku memanggilku dengan “ Ni “ berbeda dengan kebanyakan orang yang memanggilku “ Ran “, aku terbangun dan mengirimkan pesan terima kasih kepada mamak yang dibalas dengan kata –kata ucapan selamat ulang tahun dan beliau berkata belum memberikan banyak hal untukku. Orang tua ku adalah hal terbaik yang ku miliki di dunia ini. Setidaknya di dunia ini aku memiliki 5 orang yang mencintaku tanpa syarat, bapak, mamak, bang Domu, Akin dan Abed. Adikku juga mengatakan hal yang sama belum bisa memberikan apapun untukku, “ Selamat ulang tahun kakak sayang “ aku lebih mengharapkan itu. Di ulang tahun ke 22 adikku yang sedikit pendiam mengirimkan pesan untukku, “ Selamat ulang tahun kakakku sayang “ dan aku merasa ucapan itu lebih berarti dari kado apapun. Aku berharap dia akan selalu mengucapkan itu setiap tahun.Pagi hari aku saat teduh dengan renungan dari Daily Bread yang dikirim ketika ulang tahun. Mengikuti apa yang tertulis disana aku merenungkan perjalanku dan menuliskan surat untuk diriku sendiri. Memang kelihatan agak aneh menulis surat untuk diri sendiri, tetapi dulu aku sering melakukan ini dan aku menuliskan apa yang ingin ku capai di tahun mendatang. Aku memikirkan apa yang akan kulakukan dimasa mendatang. Memikirkan apakah aku akan hidup untuk diriku sendiri atau memberikan sebagian untuk orang lain.Kemarin aku dan Missi berbicara mengenai SM3T , mengapa aku ingin mengabdikan diri untuk daerah yang kolot? Apakah aku ingin terlihat keren? Berbagai kemungkinan yang mungkin akan menghadangku terutama dari orang tuaku, mengapa aku susah payah menjadi mahasiswa S2 ditengah segala keterbatasan dan masih memiliki mimpi untuk menghabiskan hari di kehidupan yang sulit. Maka aku sampai pada alasan bahwa setiap orang berkewajiban menghadirkan kehidupan yang layak bagi orang lain. Bahwa aku tidak memiliki hak untuk berbicara jika aku tidak melakukan apapun. Ketika nanti kehidupan tidak sejalan dengan yang ku inginkan paling tidak aku pernah memiliki mimpi itu dan aku akan mengerjakan hal lain yang mirip dengan mimpi itu (JIKA).Tidak satupun temanku di asrama Minshiung yang mengucapkan selamat ulang tahun. aku bertanya-tanya apakah mereka merencanakan sesuatu. Aku pergi dengan Siska sekitar pukul 16.00 ke Minshiung. Ketika melihat Siska aku bertanya mengapa tidak ada satupun dari mereka yang mengucapkan selamat ulang tahun dan Siska tertawa sambil bertanya apakah aku ulang tahun. Aku memang tidak lagi mencantumkan ulang tahun di facebook. Jadi aku percaya mereka lupa kalau aku ulang tahun hari ini, aku hanya tertawa. Sepulang dari Minshiung aku ada janji jogging dengan Missi, aku meninggalkan Siska yang di sedang di dapur menyimpan daging yang kami beli.            Setelah jogging di taman dengan danau kecil, aku bercakap-cakap dengan Misi yang mengeluh dia sedang lapar. Aku menanyakan beberapa hal sambil sit-up dan kudengar ada suara yang menyanyikan selamat ulang tahun. ternyata gerombolan dari asrama yang datang membawa kue ulang tahun. Ternyata mereka tidak lupa. Siska juga menyangka aku marah karena meninggalkan dia sendiri di dapur padahal aku buru-buru karena aku berjanji pergi jogging dengan Missi. Dan begitulah hari ini berakhir.
  

Daun Jatuh Jangan Membenci Angin

29 April 2015 pukul 19:27
            Indonesia kembali mengeksekusi para pengedar narkoba di LP Nusa kambangan. Eksekusi kali ini juga diwarnai pro dan kontra dari masyarakat baik Indonesia maupun dunia internasional. Sejumlah kalangan juga “membujuk” presiden Joko Widodo untuk membatalkan eksekusi ini dengan alasan HAM dan para pelaku sudah bertobat. Aku sendiri merasakan dilemma dengan keputusan apapun. Masalah mencabut nyawa orang lain memang sangat berat karena memang tidak ada otoritas manusia untuk mengakhiri nyawa orang lain.
            Indonesia memang memberlakukan hukuman mati untuk beberapa kejahatan berat termasuk teroris dan peredaran narkoba. Sekedar informasi, ketika aku tiba di Taiwan, bandara Taoyuan di Taiwan, negara kecil ini juga menyambutku dengan kata kata,  “ DRUG TRAFFICKING IS PUNISHABLE BY DEATH IN R.O.C “. Indonesia bukan satu-satunya negara yang memberlakukan hukuman mati untuk pengedar narkoba, ada Singapura, Taiwan (Republic of China) dan Malaysia. Negaraku memang sedang dalam keadaan darurat narkoba. Peredarannnya bukan hanya di perkotaan tetapi sudah merambah ke pedesaan, bukan hanya dewasa melainkan juga anak-anak. Menurutku narkoba merupakan kejahatan yang sangat aktif dan beranak-pinak. Bagi pengguna narkoba selain melukai dirinya, dia juga bisa melukai orang lain. Maka singkatnya narkoba akan melahirkan tindakan kriminal lainnya, mulai dari kecelakaan lalu lintas (kasus Tugu Tani dengan tersangkat Afriyani Susanti), pembunuhan, pencurian dan perampokan.
                          Dunia internasional boleh berkoar-koar mengenai HAM tetapi apakah mereka peduli dengan generasi Indonesia yang sudah menganggap narkoba sebagai lauk di makanannya?
Presiden Joko Widodo juga pasti tidak memutuskan ini hanya dalam waktu satu malam. Beliau juga pasti mengalami dilema dalam memutuskan apakah beberapa orang ini harus dihukum atau tidak. Beliau juga manusia yang akan menanggung beban psikologis itu selama hidupnya, bahwa ada beberapa orang yang hidupnya harus berakhir di dunia ini hanya karena dia berkata “ Ya” mereka harus dihukum mati. Ini semata mata bukan hanya ingin membuat Indonesia ditakuti oleh negara luar seperti yang dikatakan komedian Inggris Russel Brand. Eropa bisa menyerukan HAM tetapi apakah mereka hidup di Indonesia, dinegara yang narkoba sudah dijual dalam bentuk cake atau cookies?
Presiden Joko Widodo tidak seperti itu, dia tidak perlu ditakuti, tetapi baginya Indonesia dan generasi yang akan datang sangat penting maka dia merelakan sebagian dari dirinya juga ikut mati bersama beberapa orang yang harus dieksekusi karena baik Jokowi dan mereka yang dieksekusi sama-sama manusia.
            Kita hanya bisa menuliskan catatan atau komentar di media sosial. Jika eksekusi dilanjutkan maka kita mengatakan pemerintah mengabaikan HAM dan jika tidak dilakukan kita mengatakan pemerintah takut dengan ancaman asing. Maka bagi kita pemerintah tetap salah terlepas apapun yang dilakukan.
            Mari kita melihat orang lain dibalik eksekusi ini, orang yang juga tersiksa dengan eksekusi ini : para algojo yang mengeksekusi para tersangka. Mereka juga akan membawa kisah ini sampai mereka mati. Kenyataan bahwa mereka harus membunuh orang yang mereka tidak kenal yang tidak melakukan kejahatan apapun kepada mereka, bahkan tidak bersentuhan dengan kehidupan mereka sebelumnya. Tentu saja ada beban psikologis yang harus mereka tanggung sampai mereka mati dan tentunya sebuah pertanyaan: Tuhan apakah aku bersalah melakukan eksekusi ini?
Apakah itu salah dihadapan Tuhan atau tidak hanya Tuhan yang tahu. Hanya saja demi ribuan orang yang harus hidup hokum memerintahkan beberapa orang yang bersalah harus dihukum. Hukum dibuat untuk mengatur dan memperbaiki tatanan hidup manusi.
            Jadi jika kedepannya kasus-kasus seperti ini terjadi aku akan menanggapinya dari status bang Rinto pagi ini tentang tanggapan seorang Eropa tentang hukuman mati di Indonesia. Jika kau berkunjung kesebuah negara dan kau sudah disambut dengan peringatan hukuman mati bagi pengedar narkoba dan kau tetap memutuskan melangkahkan kakimu kenegara itu dan melanjutkan kejahatanmu maka bukan pemerintah, bukan negara itu, bukan peluru yang membunuhmu, kau yang membunuh dirimu sendiri. Bahkan Tuhan memerintahkan manusia untuk menuruti hukum sebuah daerah dan mengusahakan kesejahteraan untuk tempat dimana kau tinggal. Tetapi jika hatimu masih berkeras mengapa kau menyalahkan penguasa untuk hukuman yang diberikan?
Aku berduka untuk mereka yang pergi tetapi hukum adalah hukum, mari patuhi agar kita tidak menempatkan orang lain dalam dilema atau tekanan sikologis. Kita harus menghargai nyawa kita dengan menghargai orang lain.

Deep condolences for them who were gone.. Rest In peace

Untukmu tempat yang telah ku tinggalkan selama 12 tahun


            Aku memiliki masa kanak-kanak yang menyenangkan. Aku bermain dengan segala hal yang alam berikan kepadaku. Bermain di bawah hujan hingga bibirku membiru dan dimarahi mamak dan bapak tetapi akan ku ulangi ketika hujan turun. Meluncur dengan pelepah pinang dan tertawa ketika aku atau temanku terlempar kelumpur. Bermain uang-uangan dengan daun bunga kembang sepatu dan menyimpannya disela-sela tumpukan batu bata yang kami anggap bank. Bermain masak-masakan dengan tempurung kelapa dan lumpur sebagai sambal kacangnya. Bermain bongkar pasang dan berbicara sendiri, masa kecilku benar-benar menyenangkan dan kreatif.
            Hari ini aku merindukanmu, tempatku lahir dan menghabiskan masa kanak-kanakku. Aku mengingat setiap sudut-sudutmu, setiap rumah, belokan, jalan tikus dan wajah-wajah penduduk disana, karena aku adalah seorang observer. Aku bisa mendeskripsikan dengan jelas tentangmu walaupun aku sudah menghabiskan waktu lebih banyak dan akan lebih banyak lagi diluar dirimu. Setiap hari saat aku merindukanmu aku membayangkan diriku berdiri di depan rumahku yang bercat biru langit, aku akan mengambil kamera untuk mengabadikanmu. Gereja yang berdiri di barat berlatar pegunungan hijau yang indah saat matahari terbenam di musim kemarau.
            Aku membayangkan diriku berjalan disana, terkadang aku merasa asing karena ada saja wajah baru yang kulihat, anak-anak kecil sudah menjadi remaja, sering membuatku pangling dan ada saja waktu yang membuatku merasa tua, walaupun untukku sendiri aku tetaplah aku. Aku mendengar beberapa dari pendudukmu telah pergi dan aku dikejauhan ini juga merasa sedih. Hidup dipedesaan kecil bagiku adalah anugerah dan baru sekarang aku menyadarinya. Aku bersyukur hidup ditengah-tengah komunitas yang saling mengenal satu dengan yang lain. Aku suka saat orang-orang tua menanyakan kapan aku datang dan apa yang aku lakukan.
            Hari ini aku benar-benar merindukanmu. Hari ini aku mengunjungi Pingtung, kawasan paling selatan Taiwan. Berada di daerah ini akan membuatmu seakan berada di Indonesia. Aku melihat pinang, kelapa, papaya, nangka, pisang, jagung dan padi yang akan sangat jarang dilihat di utara Taiwan walaupun di Chiayi akan sangat mudah melihat padi. Sepanjang perjalanan aku seakan melihat daerahku sendiri. Tempat pertama yang kami kunjungi di Pingtung adalah Banana Research Center, sebuah organisasi non-profit yang meneliti pisang. Sebenarnya Taiwan ini adalah negeri kecil jadi lahan mereka juga sangat sempit tetapi mereka masih berusaha untuk mengembangkan sector pertanian di lahan yang terbatas. Tempat riset ini mengembangkan bibit yang diambil dari tunggul pisang yang menghasilkan beberapa bibit pisang yang berkualitas. Aku membayangkan betapa lelahnya bapakku menanam pisang dengan mengambil bibit langsung dari induknya. Andaikan petani didukung oleh lembaga riset seperti ini.
            Tempat kedua yang kami kunjungi adalah perkebunan mangga. Petani di Pingtung menanam mangga dilahan yang dilindungi oleh dinding dan kain seperti jarring transparan untuk melindungi mangga dari serangan taifun yang memang sering melanda Taiwan. Pertanian di Pingtung memang didukung oleh teknologi yang sangat bagus menurutku. Aku mengingat bapak pernah mengeluhkan mengenai cabang duku yang sering patah kala angin kencang dan buah duku yang dimakan oleh hewan. Bagaimana cara mengatasi masalah cabang yang patah karena angin kencang dan serbuan hewan-hewan yang memakan buah duku. Pertanian disini selalu menggunakan teknologi untuk mengurangi ongkos produksi dan meningkatkan keuntungan.
            Tempat terakhir adalah pertanian jambu air. Petaninya adalah seorang lelaki yang ku taksir berusia 40 tahun yang sangat semangat dan berulang kali mengatakan bahwa dia sangat ahli dalam merawat jambu. Dia juga mengatakan bahwa dia bisa mengontro pohon jambunya dengan baik dan kelihatannya dia sangat menikmati menjadi petani. Dia membangun semacam rel ditengah kebun jambunya untuk memudahkan memanen jambu tanpa harus membutuhkan banyak orang untuk memanen.
            Dan disini aku berpikir alangkah baiknya kalau di Indonesia juga ada pelatihan seperti ini. Sarjana pertanian tidak usah lagi bekerja di bank, di kejaksaan lembaga-lembaga yang tidak relevan dengan disiplin ilmunya dan memulai langkah untuk membantu petani untuk menggunakan teknologi dalam rangka meningkatkan penghasilan dengan mengurangi ongkos produksi. Aku berpikir bagaimana kalau petani di kampungku sebaiknya menggunakan kain berbentuk jarring untuk melindungi padinya dari serangan burung-burung daripada menghalaunya dengan orang-orangan. Rasanya lebih praktis menjaga padi yang sedang berbuah itu dengan kain jarring sehingga burung tidak bisa mengganggu padi-padi itu. Memang untuk pertama akan mahal tetapi jarring-jaring itu bisa digunakan untuk beberapa tahun mendatang.
            Aku juga berpikir alangkah baiknya kalau ada peneliti yang mengkhusukan diri untuk meneliti kemungkinan durian bisa berbuah sepanjang tahun. andaikan durian-durian dikampungku bisa berbuah sepanjang tahun maka itu akan sangat baik. Lagipula durian di kampungku terkenal sangat enak.
Sebenarnya aku ingin menceritakan ini kepada bapakku, aku ingin tahu bagaimana pendapatnya dengan teknologi pertanian disini. Mungkin dia akan kagum jika aku mengatakan bahwa petani disini menanam padi dengan menggunakan mesin. Padi disini tidak perlu dijaga oleh orang-orangan, aku juga tidak tahu mengapa tidak ada burung-burung yang hinggap di padi-padi itu. Aku juga ingin memberitahu bapakku bahwa dosenku berkata mengapa aku tidak mengembangkan sesuatu di kampungku saja karena aku mengatakan bahwa kampungku menghasilkan kopi coklat juga. Ah aku iri dengan orang-orang disini.
            Aku berharap aku akan secepatnya menyelesaikan segala sesuatu disini dan pulang. Aku sudah rindu untuk duduk dibalakang rumahku, menyesap secangkir kopi dan mendengarkan daun-daun yang berbisik menghasilkan suara yang khas. Aku juga sudah rindu duduk di teras rumahku menyaksikan matahari terbenam dibalik pegunungan di sebelah barat yang menghasilkan guratan jingga kadang dengan bonus warna tosca dilangit. Aku bahkan merindukan suara lonceng di hari minggu, suara hujan yang beradu dengan atap dan suara penyanyi dari lapo tuak. Aku rindu.



Sabtu, 04 Oktober 2014

Me with the stars in the Sky Of Taiwan

                Jangan harap aku akan berbicara tentang bintang-bintang disini. Aku akan berbicaratentang perjalananku selama menuju Taiwan. Ya, aku berada di Taiwan untukbeberapa tahun dalam rangka menyelesaikan pascasarjanaku. Mengapa memilihTaiwan??? Aku tidak punya alasan yang mengguncang mengapa aku memilih Taiwan.Aku memilih Taiwan karena Taiwan yang membuka peluang untuk mahasiswa yangkekurangan dana.
                Akuberangkat dari Kuala Namu jam 11.30. Kami transit di Kuala Lumpur dan bandaradi Kuala Lumpur itu luasssssssssss. Jadi kami mencari pintu keberangkatan itususah. Dari Kuala Lumpur kami naik pesawat lagi sekitar 4 jam 40 menit menujuTayouan Airport. Dan 4 jam itu sangat membosankan. Ini adalah pengalamanpertamaku naik pesawat. Dan naik pesawat itu ternyata tidak enak. Kalau naikmobil pemandangan yang dilihat itu bermacam-macam. Ada rumah, pohon dan sungainah kalau naik pesawat yang bisa dilihat Cuma awan, awan, awan dan awan. Lahkalau malam yang dilihat hanya hitam atau bintang-bintang.

                Kami sampai di Tayouan sekitar jam 10.30 untungnya bandaranya tidak terlalu luas (dibandingKuala Lumpur) dan kami bisa menyelesaikan masalah imigrasi dan mengambil bagasiyang super duper besar dan berat.
Masalahnya saat itu adalah kami sampai ketika sudahmalam dan kami tidak bisa langsung ke Chiayi. Jadi kami harus menerima opsisatu-satunya yakni menginap di bandara. Suhu udara di Taiwan masih bisaditolerir tidak terlalu dingin berhubung musim dingin juga beum menyapa. Kamibertanya kepada petugas disana apakah nyaman untuk tinggal di bandara sampaibesok pagi then He said “ It is save “ bandara di Taiwan sangat nyaman, ada airminum gratis dan banyak kamar mandi selain itu ada juga sofa yang bulat dannyaman untuk dijadikan tempat tidur. Jadilah malam itu kami menginap dibandara.
                Pagi-pagiaku bangun dan lihat jam, masih jam 5 udah terang. Dan ini waktunya untukmelanjutkan perjalanan. Untungnya kami bertemu warga Indonesia yang bias berbahasaMandarin dan Indonesia. Mereka membantu kami untuk memilih alat transpotasi keChiayi. Sayangnya kami hanya bias bersama mereka sampai Chungli karena tujuankami berbeda. Dan keberuntungan kami belum berakhir, kami bertemu Chinesekelahiran Kanada, dia juga kebetulan akan ke Chiayi. Perjalanan menggunakan busdari Chungli ke Chiayi memakan waktu 3 jam, tapi kalau supir sampri yangmengemudikan bus nya mungkin hanya membutuhkan waktu 1,5 jam. Jalanan di Taiwansangat mulus. Dari Chungli sampai ke Chiayi tidak ada macet dan tidak terlalubanyak lampu merah.
Bus yang kami tumpangi juga sangat nyaman dan setiappemberhentian selalu diumumkan dalam bahasa Mandarin dan bahasa Inggris.
                Setelahsampai di Chiayi kami menggunakan kereta api dari Chiayi ke Minshioung harganya15NTD sekitar Rp 6000 dan dari Minshoung kami ke asrama menggunakan Taxi dengan120 NTD. Disana kami menunggu mahasiswa yang akan mengantarkan ke asrama. Setelahbertemu dengannya, yang ternyata adalah Chinese kewarganegaraan Malaysia kamimenuju asrama. Asrama kami terdiri dari 5 lantai dan untuk masuk ke asramaharus punya kartu yang akan di scan ke pintu maka aku tidak melihat gembokdisini.
                Diasrama ini ada beberapa mahasiswa Indonesia. Untuk makanan kami akan memasak sendiri dan yang diperbolehkan hanyamengukus makanan, memanggang dan tidak ada goring menggoreng. Untuk fasilitasasrama ini sangat nyaman. Ada banyak kamar mandri dan bias memilih menggunakanair panas, hangat atau dingin. Jaringan internet juga sangat baik dan tidak adakata “lola”.  Sore hari kami pergi kepasar tradisional dan berkomunikasi dengan bahasa mandarin sambil membawa bukudan kamus.
Dan inilah Taiwan, negaranya si Tomingse…

September 23


Dari dulu banyak orang termasuk aku yang menentang kalau pejabat studi banding ke luar negeri. Menurutkuitu hanya pemborosan anggaran. Setelah aku berada disini aku merasa kalaupejabat memang perlu mengadakan perjalan ke Negara lain untuk memperbandingkankondisi di Indonesia dengan Negara lain. Seperti pengalamanku berada di Taiwanini. Baru beberapa hari aku berada di Taiwan dan aku tidak tinggal di kota yangtidak cukup besar untuk Taiwan seperti Taipei, Kaoshiong atau Tainan (bukanluas wilayah). Namun di kota ini tepatnya di Chiayi tepatnya lagi di MinshoungTownship segalanya sangat teratur. Tidak ada keributan dan jarang ada suaraklakson mobil. Selama disini aku tidak menemukan kemacetan, orang yang jatuhdari kendaraan atau keributan. Segalanya sangat teratur disini.
Pejalan kaki danpengendara sepeda diberikan jalur yang cukup lebar dan tidak ada pengendarasepeda motor atau mobil yang melintas dari garis batas yang sudah ditentukan. Jadiaku merasa nyaman berjalan kaki atau dibonceng naik sepeda disini, yang membuatkubingung adalah di Indonesia biasanya berjalan di sebelah kiri maka disini harusberjalan di sebelah kanan.
Menggunakan sepeda adalah hal yang umumdi Taiwan, orang tua, anak-anak, mahasiswa atau siapa saja biasa menggunakansepeda. Ini juga yang menjadi tantangan untuk mahasiswa Indonesia yang tidakterbiasa menggunakan sepeda, maka hal pertama yang harus dilakukan sebelumkesini adalah belajar naik sepeda. Tidak seperti di Medan atau mungkinkebanyakan kota di Indonesia angkutan umum bias berjalan lewat jalur mana sajadan bias berhenti dimana saja, bus disini hanya bisa menaikkan atau menurunkan penumpang di stasiun.
            Aku berandai-andai, seandainya saja Medan bisa teratur seperti ini, bersih dan tidak macet. Sepertinya pejabat di Medan bisa tinggal di Minshoung Villagebarang 3 hari dan menikmati kehidupan di kota kecil ini, melihat pasartradisional Minshoung yang bersih, jalanan yang tidak macet dan sampah yangtidak berserakan di jalanan. Untuk sampah kira-kira jam 6-8 malam di Minshoung truk kuning akan lewat dengan bunyi yang khas. Bunyi khas yang sudah dikenalipenduduk pertanda truk sampah akan lewat sehingga penduduk yang mau membuangsampah harus menunggu dijalanan jika ingin sampahnya dibuang. Malam pertama akudi kota Chiayi aku heran melihat banyak orang yang berkumpul dijalananmenenteng plastic aku mengira mereka akan berjualan ternyata mereka menunggutruk sampah yang lewat, di negaraku mana ada orang yang mau menunggu untukmembuang sampah.
            Nah mungkin butuh waktu yang lama untuk mengubah kehidupan di negaraku menjadikehidupan yang teratur maka jika anda memang mau studi banding, studibandinglah yang benar dan coba tata kota dengan baik. Dan untuk itu jugalah akuberada disini, nanti kalau aku pulang aku akan mencoba untuk menerapkan system yangbaik yang ku dapat disini.

kemarin kami mengunjungi kafetaria kampus. Kami memesan nasi goreng dan penjualnya berkata tidak ada. memang masalah makanan disini sangat penuh pergumulan karena lidah kami belum terbiasa dengan makanan yang tidak pedas dan asin. untung kemarin aku membawa ikan teri jadi masih bisa dimakan, untuk selebihnya aku agak bingung dengan makanan yang akan ku konsumsi. Ingin rasanya aku makan daun ubi tumbuk ditambah cabe rawit yang digiling dikasih sedikit jeruk nipis ditambah ikan asin goreng kering, alamak nggak akan ku dapatkan makanan seperti itu disini. Jadi kalau mau kesini bawalah makanan Indonesia sebanyak-banyaknya.